Rabu, 17 Maret 2010

Mendeteksi zat aditif dalam makanan

Snack, bukanlah kata yang asing di telinga kita. Setiap hari, di sekolah maupun sekitar rumah kita terdapat banyak macam pedagang snack. Agar menarik, kebanyakan snack itu diberi zat pewarna, baik alami maupun sintetis. Seperti kita ketahui, pewarna sintetis ada yang aman ada yang tidak. Karena itu sebagai konsumen kita perlu memahami cara mendeteksi keberadaan pewarna makanan dalam kudapan kita.

Sebenarnya, Snack memang diperlukan untuk mengisi lambung kita agar tidak terlalu lama kosong. Selain itu, juga dapat sebagai tambahan kalori, vitamin, dan mineral. Snack terbuat dari tepung beras, atau tepung kentang, tepung jagung, bisa juga dari singkong.

Hampir semua produk snack diimbuhi bumbu sebagai perasa. Ada sambal balado, jagung bakar, jagung manis dan sebagainya. Dan tidak luput pula ditambahkan bahan tambahan makanan, seperti pengawet, pemanis, pewarna, penyedap, anti kempal, dan sebagainya. Zat pengawet digunakan untuk memperpanjang daya simpan. Dalam hal ini, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Jika sudah berjamur, hal itu menandakan snack tersebut sudah kadaluwarsa.

Bau juga bisa jadi indikator bahwa snack sudah kadaluwarsa, yaitu bau apek atau tengik, yang menandakan ia sudah terkontaminasi oleh mikroorganisme. Perhatikan juga zat pengawet yang digunakan. Bisa saja zat pengawet yang digunakan menimbulkan reaksi alergi. Tentu saja reaksi semacam ini tidak akan muncul jika sang anak tidak memiliki riwayat alergi. Zat pemanis sintetik merupakan zat yang dapat menimbulkan rasa manis atau dapat membantu mempertajam penerimaan terhadap rasa manis. Meskipun telah banyak ditemukan zat pemanis sintetik, tetapi hanya beberapa saja yang boleh dipakai dalam makanan.

Zat pemanis sintetik yang digunakan di Indonesia adalah siklamat dan sakarin. Tetapi penggunaan siklamat terlalu berlebihan akan menyebabkan radang tenggorokan. Penggunaan sakarin tergantung dari intensitas kemanisan yang dikehendaki. Pada konsentrasi tinggi, sakarin akan menimbulkan rasa pahit-getir. Zat Pewarna Pada umumnya digunakan untuk membuat snack menjadi tampak menarik. Tetapi penggunaan pewarna juga harus mengacu pada pewarna yang diizinkan dan sudah mendapat sertifikasi.

Bagaimanapun, sertifikasi pewarna terutama untuk makanan sangat penting. Hal ini dikarenakan dalam proses pembuatannya sering terkontaminasi oleh arsen atau logam berat yang lain yang bersifat racun. Maka dari itu, penggunaan zat pewarna harus sesuai dengan aturan. Tetapi terkadang produsen hanya ingin membuat produk snack semenarik mungkin, tapi dengan menggunakan pewarna berlebihan.

Jadi kita perlu waspada pada snack yang terlihat mencolok warnanya. Tak hanya itu, perlu juga mengetahui apakah snack tersebut menggunakan zat pewarna makanan atau bukan. Kasus penambahan warna tekstil pada makanan / snack sebenarnya bukan lagi rahasia umum, meski hal itu terlarang dan sangat berbahaya bagi kesehatan manusia.

Biasanya pewarna yang digunakan Rhodamine-B (untuk pewarna merah) dan methanil yellow (untuk pewarna kuning). Hal ini perlu diwaspadai, karena zat pewarna itu mengandung residu logam berat yang berbahaya bagi kesehatan. Sebab bisa menyebabkan diare, alergi, kanker, sampai kerusakan ginjal. Ada beberapa hal yang harus diketahui konsumen untuk mendeteksi pewarna tekstil tersebut. Dari tampilan fisik saja, kita sudah bisa mengetahui kalau zat warna yang digunakan bukan pewarna makanan.

Biasanya produk makanan yang diberi zat pewarna ini terlihat lebih terang atau menyolok warnanya, serta memiliki rasa pahit. Selain itu, biasanya jika makanan menggunakan pewarna tekstil maka warna terkadang masih melekat di tangan, tatkala kita memegang makanan tersebut. Warna baru akan hilang jika dibersihkan dengan sabun atau minyak.
Penyedap Rasa Snack yang berada di pasaran terdiri atas berbagai macam rasa, seperti sambal balado, sapi panggang, dan sebagainya. Di dalam bumbu itulah penyedap rasa ditambahkan, untuk meningkatkan rasa atau menekan rasa yang tidak diinginkan. Pembangkit cita rasa yang umum digunakan adalah monosodium glutamate (MSG), ribotide, dan aji plus.

Efek MSG berbeda-beda pada setiap anak, tergantung usia, tapi untuk amannya kita perlu berhati-hati. Cara gampang mendeteksi penggunaan penyedap rasa bisa dilakukan dengan mencicipi snack sebelum dimakan seluruhnya. Hal itu terutama untuk produk snack yang baru. Sebab lidah manusia cukup jeli membedakan antara makanan yang aman dan tidak. Makanan yang tidak aman umumnya berasa tajam, semisal sangat gurih dan membuat lidah bergetar.

Dampak dari konsumsi MSG yang berlebihan akan terjadi gangguan hati, menimbulkan gangguan alergi, depresi, dan mengganggu keseimbangan fungsi otak. Jika dikonsumsi ibu hamil secara berlebihan, maka bisa masuk ke plasenta dan memengaruhi perkembangan janin. Selain itu, adapula zat Antipengempal Antikempal adalah senyawa garam-garaman hidrat yang bersifat cepat terhidrasi dengan mengikat air tanpa menjadi basah. Biasanya zat ini ditambahkan ke dalam makanan yang bersifat bubuk, seperti bumbu-bumbu snack.

Tujuan utama penambahan antikempal adalah mencegah terjadinya penggumpalan. Senyawa antikempal umumnya dapat dimetabolisme atau tidak toksik pada tingkat penggunaan yang diizinkan. Biasanya porsi penambahannya sekitar satu persen dari berat bahan pangan. Selain itu semua, kita jangan tergiur snack yang harganya lebih murah daripada biasanya. Sebab, jangan-jangan snack tersebut palsu atau bisa dikatakan bermasalah.


Dikutip dari detak.org

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar